Suatu gejala merupakan manifestasi subjektif dari gangguan fungsi, dan tidak spesifik untuk suatu penyakit, melainkan lebih condong kepada keadaan patofisiologinya, misalnya gejala febris, bukan hanya merupakan gejala penyakit tifus abdominalis namun dapat timbul juga pada penyakit yg lain seperti influenza, morbili, pneumonia,dsb.
Pada traktus gastrointestinal (GIT) / saluran pencernaan, perubahan patofisiologis dapat berupa perubahan sekresi, perubahan gerakan usus, pencernaan yang tidak adekuat, gangguan penyerapan, atau bahkan suatu sumbatan (obstruksi). Akibat dari gangguan fisiologis tersebut menimbulkan gejala seperti : nyeri abdomen, disfagia, anoreksia, mual, muntah, perut kembung, konstipasi dan diare.
Sebaliknya tanda-tanda fisik penyakit GIT memperlihatkan secara objektif adanya proses patologis dalam rongga abdomen misalnya : nyeri perut, ketegangan dinding perut, terabanya massa, perubahan bunyi bising usus, adanya perdarahan, ikterus, dan stigmata disfungsi hati.
Pada pemeriksaan fisik abdomen sama seperti pemeriksaan abdomen pada Penyakit Dalam yaitu melalui tahapan : inspeksi, perkusi, palpasi dan auskultasi, namun pada penderita yang sangat kesakitan sebaiknya urutan pemeriksaan dari yang tidak menyakitkan dahulu yaitu : inspeksi, auskultasi, perkusi dan palpasi. Dengan sistematika seperti ini diharapkan gejala/tanda dari gangguan pada organ-organ intraabdomen tidak ada yang terlewatkan, misalnya tanda-tanda peritonitis, apendisitis akut, asites, dsb. Read the full story






