Malaria

DEFINISI

Malaria adalah penyakit yang dapat bersifat akut maupun kronis, yang disebabkan oleh protozoa genus plamodium dan ditandai dengan panas / demam paroksismal periodianemia

ETIOLOGI

Genus plasmodium dan terdapat 4 spesies yang dapat menyerang manusia, yaitu:

  1. P. vivax penyebab malaria Tertiana
  2. P. falciparum penyebab malaria tropika
  3. P. malaria penyebab malaria malariae
  4. P. ovale penyebab malaria ovale

PATOGENESA DAN PATOLOGI

1. Parasit berkembang biak secara aseksual dalam tubuh manusia. Sporosat masuk ke dalam darah melalui gigitan nyamuk. Setelah setengah jam masuk ke dalam hati membentuk siklus pre-eritrositer (trofosoi-schizont-merozoit). Merozoit sebagian masuk kembali ke dalam hati meneruskan siklus eksoeritrositer sedang sebagian lain masuk ke dalam darah membentuk siklus eritrositer (merozoit- tropozoit muda-tropozoit tua-“Schizont”-“schizont” pecah merozoit yang memasuki eritrosit baru). Sebagian merozoit memulai gemetogoni, membentuk mikro dan makrogametosit. Wakt antar masuknya sporezoit sampai timbulnya gejala disebut masa tunas intrinsik yang lamanya antara 8-29 hari; tergantung dari daya tahan tubuh dan spesies plasmodium (pada “palsmodium falciparum” sangat pendek).

2. Parasit berkembang biak secara seksual dalam tubuh nyamuk. Dalam lambung nyamuk, makro dan mikrogametosit berkembang menjadi makro dan mikrogamet, yang akan membentuk zigot (ookinet). Ookinet kemudian menembus dinding nyamuk membentuk ookista yang membentuk banyak. Sporozoit ini dilepaskan dan masuk ke dalam kelenjar ludah nyamuk. Waktu antara nyamuk menghisap darah yang mengandung gematosit sampai mengandung sporozoit dalam kelenjar liurnya disebut masa tunas ekstrinsik.

Manusia merupakan hospes perantara sedangkan nyamuk adalah hospes definitif untuk infeksi plasmodium ini. Siklus kehidupan aseksual (skizogoni) ditemukan pada manusia, sedangkan siklus kehidupan parasit yang seksual (sporogoni) ditemukan pada nyamuk. Dalam siklus aseksual 1 eritrosit yang terinfeksi akan menghasilkan 6-32 merozit pada setiap kejadian sporulasi. Infeksi oleh plasmodium malaria merupakan infeksi yang paling ringan, hanya eritrosit matang yang diserang, siklus aseksual berlangsung 72 jam, jadi setelah 72 jam timbul generasi baru (merozoit) yang akan menyerang eritrosit yang lain. Jumlah merozoit pun hanya 6-12 saja dari hasil sporulasi dalam 1 eretrosit. Hanya terjadi 1-2% saja eritrosit yang terinfeksi (parasitemia).  Infeksi, oleh plasmodium falciparum merupakan yang terberat, karena parasit ini menyerang baik retikulosit maupun eritrosit matang, skizogoni berlangsung cepat dalam 36-48 jam.

Dari 1 eritrosit dihasilkan banyak merozoit (20-30 merozoit). Selain itu juga terjadi perubahan fisik pada eritrosit yang tidak dijumpai pada infeksi plasmodium lainnya yaitu eritrosit yang terinfeksi lebih mudah saling melekat pada endotel kapiler, membentuk trombus (aglutinasi) eritrosit yang terinfeksi jadi lebih tipis, lebih besar diameternya dan mudah pecah di dalam sistem retikuloendotelial.

Pada setiap adanya destruksi eritrosit timbul demam yang paroxismal periodik mungkin timbul karena reaksi alergi terhadap zat pirogen yag memang bebas pada waktu sporulasi perjalanan khas demam malaria.

Ketiga stadium pada gambar tersebut berlangsung 3-4 jam, kadang-kadang 6-12 jam, lalu disusul periode tidak demam (apireksia). Juga terjadi vasokonstriksi disusul vasodilatasi yang seirama dengan rasa menggigil dan demam. Pada infeksi oleh plasmodium falciparum, vasodilatasi ini dapat disertai dengan hipotensi. Banyaknya eritrosit yang pecah menimbulkan anemia. Pigmen malaria (hemozoria) akan diambil oleh leukosit sigmen dan monosit lalu dideposit ke dalam trabekula dan pulpa merah limpa dan sistem retikulendotelial lainnya (hati dan otak). Limpa akan membesar karena kongesti dan hiperplase sistem retikuloendotelial.

Pada infeksi plasmodium falciparum, terdapat gangguan sirkulasi yang berat dan anemia berat. Gejala-gejalanya disebut komplikasi pernisiosa, yaitu hiperpirexia malaria serebral, ikterus/hepatitis, black water fever (demam kencing hitam) dan anekrosis tubuliakur.

 Perbedaan Morfolgis Dari Keempat Jenis Malaria 

 

P. vivax

P. Falciparum

P. Malariae

P. Ovale

1.   Siklus pra-eritrosit

+ 8 hari

6 hari

15-21 hari

15 hari

2.   Sikus Eritorit

48 jam

36-8 jam

72 jam

48 jam

3.     Dalam Eritrosit :

-        Titik schuffner

-        Titik Maurer

-        Bentuk oval eritrosit

 

+

-

-

 

-

+

-

 

-

-

-

 

+

-

-

4.     Parasit

-        Semua bentuk pada darah tepi

-        Bentuk akole

-        Bentuk, cincin dengan 2 inti

-        Bentuk pita

-        Gametosit berbentuk pisang

 

 

+

jarang

 

jarang

-

 

-

 

 

Jarang

+

 

+

-

 

+

 

 

+

+

 

+

-

 

+

 

 

+

-

 

-

+

 

 

5.    Jumlah Morozoit

14-24

20-32

6-12

8-12

 

GEJALA KLINIS

1.     Demam.  Demam mempunyai  dua stadium yaitu : stadium frigoris (menggigil) yang berlangsung selama 20-60 menit, kemudian stadium akme (puncak demam) selama 1-4 jam, lalu memasuki stadium surodis selama 1-3 jam dimana penderita banyak berkeringat. Serangan demam ini umumnya diselingi masa tidak demam. Pada malaria tertiana demam timbul setiap 2 hari, pada malaria quartana timbul setiap 3 hari; sedangkan pada malaria tropikal demam bersifat “hectic”, timbul tidak teratur. Bila tidak diobati, karena kekebalan yang timbul, demam ini akan hilang dalam 3 bulan. Dan jika keadaan tubuh lemah dapat terjadi relaps.

2.     Pembesaran Limpa. Pada malaria tertiana, limpa membesar mulai minggu kedua, sedangkan  pada malaria tropika pada hari ke-3 sampai 4, limpa membesar karena harus menghilangkan eritrosit yang pecah. Pada infeksi kronik hepar juga akan membesar.

3.     Anemia. Bervariasi dan ringan sampai berat. Paling berat pada infeksi “plasmodium falciparum”. Eritrosit juga menjadi lebih mudah melekat satu dengan yang lain dan dengan endotel, sehingga lebih mudah timbul trombus.

 

PEMBAHASAN.

Malaria adalah suatu penyakit protozoa yang dipindahkan kepada manusia oleh tusukan nyamuk anopheles (white & Brema, 1994) karaktersitik malaria adalah febris, menggigil, splenomegali, anemia, dan perjalannya yang kronik dengan relaps-relaps. Pada pasien ini didiagnosis infeksi malaria tertiana ec plasmodium vivax.

 ANAMNESA

  • Panas badan yang didahului menggigil terlebih dahulu (firosis) selanjutnya berkeringat.  Serangan demam yang timbul diselingi masa tidak demam.
  • Pucat disertai lemah dan lesu. Hal ini merupakan gejala adanya anemi.
  • Keluhan penyerta lain seperti malaise, sakit kepala, pegal-pegal anoreksia, dan berat badan menurun.
  • Dari anamnesa didapatkan penderita pernah mempunyai keluhan yang sama dan sering kambuh (malaria) 6 bulan yang lalu saat penderita di Irian Jaya merupakan daerah endemik malaria.
PEMERIKSAAN FISIK

Pada saat pemeriksaan fisik pemeriksa menemukan keadaan penderita agak tampak pucat dengan konjunktiva tidak anemis serta adanya hepatosplenomegali.

LABORATORIUM

Pada saat masuk rumah sakit kondisi penderita anemis dengan Hb 8 gr% pada tanggal 3 oktober 2002. Sedangkan pada pemeriksa melakukan pemeriksaan Lab. didapatkan Hb 11,9 gr% dan laju endap darah yang meningkat yaitu tanggl 8 oktober  2002.

Pada pemeriksaan apus darah tepi (darah penderita diambil saat panas badan) ditemukan adanya plasmodium vivax pada stadium tropozoit.

PENATALAKSANAAN

Pemeriksa mengajukan terapi untuk penderita ini yaitu : istirahat dan banyak minum (minimal 2 liter per hari). Makan tinggi kalori tinggi protein dan dilanjutkan dengan pemberian primakuin 15 mg/hari yang bekerja skizontozid jaringan. Hari ke-4 selama 14 hari . Vit B Comp 3 x 1.

PROGNOSA

Pada penderita ini prognosa quo ad vitam yaitu ad bonam, karena penderita masih bisa melakukan aktivitas dan pekerjaan sehari-hari. Prognosa qua ad functionam yaitu ad bonam karena sekalipun infeksi P.vivax (malaria tertiana) adalah ringan dan jarang fatal. Pada penderita ini tidak ditemukan adanya komplikasi.

One Response to “Malaria”

  1. Kitty says:

    Bagus,,, trus gambar siklusnya mana ????

Trackbacks/Pingbacks


Leave a Reply

Follow Me