You are currently browsing : Medical

Flat Belly Diet

A physician can offer advice about exercise programs. The meal plans are low in calories and sugar. You can eat whole grains such as brown rice. The diet is designed to help you lose weight.To began the Flat Belly diet you must drink water. You must drink 2 liters of water in four days. It reduce bloating and constipation. You can blend herbs, spices ad citrus to the water. The Flat Belly diet is a 28 day workout plan.

Pre Eklamsi

Pre eklamsiPengertian
Pre eklampsia adalah kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias : hipertensi, proteinuri, dan edema.

Etiologi

Pre-eklamsi dijelaskan oleh sebuah teori yang dikeluarkan oleh Dr Haig ”pre-eklamsi adalah bentuk ekstrem dari strategi yang umum digunakan oleh semua janin. Dalam hal ini, janin meningkatkan tekanan darah si ibu untuk mendorong lebih banyak darah ke arah plasenta yang umumnya bertekanan rendah.

Dalam hal ini, pre-eklamsi berkaitan erat dengan jumlah substansi yang diinjeksikan janin ke aliran darah si ibu. Karena itu, pre-eklamsi baru terjadi jika si janin terlalu banyak menginjeksikan substansi ke aliran darah si ibu.

Mengapa si janin melakukan hal itu, Dr Haig mengatakan, si janin terpaksa melakukan hal itu, kemungkinan karena kesulitan mendapatkan makanan. Dengan kata lain, makanan si janin kurang tercukupi.”

Abortus

Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) sebelum kehamilan tersebut berusia 20 minggu dan berat janin kurang dari 500 gram atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup diluar kandungan.

Etiologi Abortus

Pada kehamilan muda abortus tidak jarang didahului oleh kematian mudigah. Sebaliknya pada kehamilan lebih lanjut biasanya janin dikeluarkan dalam keadaan masih hidup. Hal-hal yang dapat menyebabkan abortus dapat dibagi sebagai berikut.

Ketuban Pecah Dini

Ketuban Pecah Dini (KPD) Dilema sering terjadi pada pengelolaan KPD dimana harus segera bersikap aktif terutama pada kehamilan yang cukup bulan, atau harus menunggu sampai terjadinya proses persalinan, sehingga masa tunggu akan memanjang berikutnya akan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. Sedangkan sikap konservatif ini sebaiknya dilakukan pada KPD kehamilan kurang bulan dengan harapan tercapainya pematangan paru dan berat badan janin yang cukup. (2,3,7)

Pengelolaan Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan masalah yang masih kontroversial dalam kebidanan. Pengelolaan yang optimal dan yang baku masih belum ada, selalu berubah. KPD sering kali menimbulkan konsekuensi yang dapat menimbulkan morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun bayi terutama kematian perinatal yang cukup tinggi. Kematian perinatal yang cukup tinggi ini antara lain disebabkan karena kematian akibat kurang bulan, dan kejadian infeksi yang meningkat karena partus tak maju, partus lama, dan partus buatan yang sering dijumpai pada pengelolaan kasus KPD terutama pada pengelolaan konservatif (1,2).

Pemeriksaan Fisik Abdomen

Suatu gejala merupakan manifestasi subjektif dari gangguan fungsi, dan tidak spesifik untuk suatu penyakit, melainkan lebih condong kepada keadaan patofisiologinya, misalnya gejala febris, bukan hanya merupakan gejala penyakit tifus abdominalis namun dapat timbul juga pada penyakit yg lain seperti influenza, morbili, pneumonia,dsb.

Pada traktus gastrointestinal (GIT) / saluran pencernaan, perubahan patofisiologis dapat berupa perubahan sekresi, perubahan gerakan usus, pencernaan yang tidak adekuat, gangguan penyerapan, atau bahkan suatu sumbatan (obstruksi). Akibat dari gangguan fisiologis tersebut menimbulkan gejala seperti : nyeri abdomen, disfagia, anoreksia, mual, muntah, perut kembung, konstipasi dan diare.

Sebaliknya tanda-tanda fisik penyakit GIT memperlihatkan secara objektif adanya proses patologis dalam rongga abdomen misalnya : nyeri perut, ketegangan dinding perut, terabanya massa, perubahan bunyi bising usus, adanya perdarahan, ikterus, dan stigmata disfungsi hati.

Pada pemeriksaan fisik abdomen sama seperti pemeriksaan abdomen pada Penyakit Dalam yaitu melalui tahapan : inspeksi, perkusi, palpasi dan auskultasi, namun pada penderita yang sangat kesakitan sebaiknya urutan pemeriksaan dari yang tidak menyakitkan dahulu yaitu : inspeksi, auskultasi, perkusi dan palpasi. Dengan sistematika seperti ini diharapkan gejala/tanda dari gangguan pada organ-organ intraabdomen tidak ada yang terlewatkan, misalnya tanda-tanda peritonitis, apendisitis akut, asites, dsb.

Follow Me